Jumat, 01 April 2011

KENDALA-KENDALA YANG DIALAMI GURU DALAM PEMBELAJARAN IPS DI KELAS IV PADA SD NEGERI KECAMATAN BAITURRAHMAN KOTA BANDA ACEH

A. Kendala-Kendala yang Dialami Guru dalam Melaksanakan Pembelajaran IPS di Kelas IV SD Negeri Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh

A. Latar Belakang Masalah

Pengajaran adalah suatu aktifitas (proses) mengajar belajar yang di dalamnya ada dua subjek yaitu guru dan peserta didik. Istilah peserta didik penulis gunakan untuk anak didik, objek didik, atau sebagai istilah lain dari murid/siswa. Tugas dan tanggung jawab utama seorang guru/pengajar adalah mengelola pengajaran dengan lebih efektif, dinamis, efisien, dan positif, yang ditandai dengan adanya kesadaran dan keterlibatan aktif di antara dua subjek pengajaran, guru sebagai penginisiatif awal, pengarah, pembimbing, sedang peserta didik sebagai yang mengalami dan terlibat aktif untuk memperoleh perubahan diri dalam pengajaran.

Pengajaran memang bukan konsep atau praktek yang sederhana ia bersifat kompleks, menjadi tugas dan tanggung jawab guru yang seharusnya. Pengajaran itu berkaitan erat dengan pengembangan potensi manusia (peserta didik), perubahan dan pembinaan dimensi-dimensi kepribadian peserta menyikapi makanan pada sang bayi. Dengan kata lain, tugas pengajaran (mengajar) adalah berat, kompleks, perlu keseriusan, tidak asal jadi atau coba-coba.

Ahmad Rohani (2004 : 68) mengatakan bahwa pengajaran merupakan totalitas aktifitas belajar mengajar yang di awali dengan perencanaan dan diakhiri dengan evaluasi. Dari evaluasi diteruskan secara follow up. Proses dalam pengertiannya disini merupakan interaksi semua atau unsur yang terdapat dalam belajar mengajar yang satu sama lainnya saling berhubungan dengan (interdependent) dalam ikatan untuk mencapai tujuan. Yang termasuk komponen belajar mengajar antara lain : tujuan instruksional yang hendak dicapai, materi pelajaran, metode mengajar, alat peraga pengajaran dan evaluasi-evaluasi sebagai alat ukur tercapai tidaknya tujuan.

Harapan yang tidak pernah sirna dan selalu guru tuntut adalah bagaimana bahan pelajaran yang disampaikan guru dapat dikuasai oleh anak didik secara tuntas. Ini merupakan masalah yang cukup sulit yang dirasakan oleh guru. Kesulitan itu dikarenakan anak didik bukan hanya sebagai individu dengan segala keunikannya, tetapi mereka juga sebagai makhluk sosial dengan latar belakang yang berlainan. Paling sedikit ada tiga aspek yang membedakan anak didik yang satu dengan yang lainnya, yaitu aspek intelektual, psikologi dan biologis. Ketiga aspek tersebut diakui sebagai akar permasalahan yang melahirkan bervariasinya sikap dan tingkah laku anak didik di sekolah. Hal itu pula yang menjadi tugas cukup berat bagai guru dalam menggelola kelas dengan baik. Keluhan-keluhan guru sering terlontar hanya karena masalah sukarnya menggelola kelas. Akibat kegagalan guru menggelola kelas, tujuan pengajaran pun sukar untuk dicapai. Mengaplikasikan beberapa prinsip pengelolaan kelas adalah upaya lain yang tidak bisa diabaikan

Metode mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki anak didik, akan ditentukan oleh kerelevansian penggunaan suatu metode yang sesuai dengan tujuan. Itu berarti tujuan pembelajaran akan dapat dicapai dengan penggunaan metode yang tepat, sesuai dengan standar keberhasilan yang terdapat di dalam suatu tujuan. Strategi/metode yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar bermacam-macam penggunaannya tergantung dari rumusan tujuan. Dalam mengajar, jarang ditemukan guru menggunakan satu metode, tetapi kombinasi dari dua atau beberapa macam metode. Penggunaan metode gabungan dimaksudkan untuk menggairahkan belajar anak didik. Dengan bergairahnya belajar, anak didik tidak sukar untuk mencapai tujuan pengajaran. Karena bukan guru yang memaksakan anak didik untuk mencapai tujuan, tetapi anak didiklah dengan sadar untuk mencapai tujuan.

Pembelajaran merupakan suatu proses membelajarkan siswa. Sebagai suatu proses, pembelajaran melibatkan sejumlah unsur yang terkait dengan keterlaksanaan proses tersebut. Unsur yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran adalah (1) tujuan pembelajaran (TPU dan TPK), (2) proses pembelajaran (materi pelajaran, metode dan teknik mengajar, sumber belajar), dan (3) evaluasi proses dan hasil belajar siswa, serta (4) pelaku pembelajaran (guru dan siswa).

Masing-masing unsur yang terkait dengan proses pembelajaran dapat menjadi sumber permasalahan pembelajaran. Permasalahan pembelajaran dapat timbul dari tujuan pembelajaran, dari materi pembelajaran, dari proses pembelajaran, atau dari evaluasi pembelajarannya..

Pelaksanaan pembelajaran sering mengalami kendala seperti terjadinya perubahan kurikulum, perubahan ini sengaja diciptakan oleh atasan (Depdiknas) sebagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan atau pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, ataupun sebagai usaha untuk meningkatkan efisiensi dan sebagainya. Inovasi seperti ini dilakukan dan diterapkan kepada bawahan dengan cara mengajak, menganjurkan dan bahkan memaksakan apa yang menurut pencipta itu baik untuk kepentingan bawahannya. Dan bawahan tidak punya otoritas untuk menolak pelaksanaannya.

Banyak contoh inovasi yang dilakukan oleh Depdiknas selama beberapa dekade terakhir ini, seperti Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), Guru Pamong, Sekolah Persiapan Pembangunan, Guru Pamong, Sekolah kecil, Sistem Pengajaran Modul, Sistem Belajar jarak jauh dan lain-lain.

Kendala-kendala lain yang mempengaruhi proses pembelajaran di dalam kelas antara lain adalah (1) perkiraan yang tidak tepat terhadap inovasi (2) konflik dan motivasi yang kurang sehat (3) lemahnya berbagai faktor penunjang sehingga mengakibatkan tidak berkembangnya inovasi yang dihasilkan (4) keuangan (financial) yang tidak terpenuhi (5) penolakan dari sekelompok tertentu atas hasil inovasi, serta (6) kurang adanya hubungan sosial dan publikasi.

Dengan berbagai masalah tersebut di atas menjadikan sebagian besar guru IPS merasa kesulitan untuk mengembangkan model pembelajaran yang
mengacu pada kurikulum 2004 atau 2006.
Hal inilah yang mendorong peneliti
untuk mencari tahu kendala-kendala yang dirasakan oleh Guru IPS dalam
pembelajaran. Berdasarkan latar belakang tersebut maka judul yang dipilih dalam
penelitian ini adalah “Kendala-kendala yang dialami Guru dalam melaksanakan pembelajaran IPS di kelas IV pada Sekolah Dasar (SD) Negeri Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh”.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka permasalahan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Ingin mendeskripsikan kendala-kendala yang dialami

2. Usaha-usaha untuk mengatasi kendala-kendala dalam pembelajaran IPS.

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang ada, maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi guru dalam merencanakan pembelajaran IPS.

2. Untuk mengetahui kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran IPS.

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat bagi peneliti adalah menambah wawasan serta dengan adanya penelitian ini, di kemudian hari peneliti siap menjadi guru yang profesional dan inovatif dalam mengajarkan IPS di Sekolah Dasar.

2. Bagi siswa akan menjadi pedoman belajar yang lebih kondusif dan variatif sehingga siswa tidak monoton belajar dengan metode konvensional, dan diharapkan hal ini membawa dampak pada peningkatan hasil belajar siswa.

3. Bagi guru, dapat menjadi bahan pertimbangan serta masukan dalam mengatasi kendala-kendala yang selama ini menjadi masalah dalam pembelajaran IPS.

4. Bagi sekolah, dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan mutu sekolah.

F. Definisi Operasional

Untuk memperjelas pengertian yang terkandung pada Judul penelitian di atas, agar tidak terjadi salah tafsir terhadap judul penelitian maka peneliti akan memberi penjelasan judul sebagai berikut :

1. Kendala

Dalam kamus besar bahasa Indonesia kendala berarti halangan,
rintangan, faktor atau keadaan yang membatasi, menghalangi, atau mencegah
pencapaian sasaran; kekuatan yang memaksa pembatalan pelaksanaan. Sedankan kendala yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kendala yang dialami oleh guru IPS dalam pembelajaran baik perencanaan maupun dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran.

2. Guru

Menurut Sudirman (2006 : 125) “guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan”. Guru yang dimaksud dalam penelitian ini adalah guru yang ditugaskan
secara formal untuk mengasuh mata pelajaran IPS baik yang berlatar
belakang pendidikan sosial maupun tidak.

3. Pembelajaran IPS

IPS merupakan perpaduan dari sejumlah mata pelajaran seperti: Geografi, ekonomi, sejarah, antropologi, politik. Depdikbud (1994 : 103), IPS yang diajarkan di tingkat pendidikan dasar mencakup bahan kajian lingkungan sosial, ilmu bumi, ekonomi, dan pemerintahan, serta bahan kajian sejarah.

G. Landasan Teori

1. Belajar dan Mengajar

Dalam proses pembelajaran unsur belajar memegang peranan penting.
Belajar merupakan suatu proses dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan
hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Hasil
belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan
Konsep pembelajaran ini diterapkan dalam kurikulum 2004 dan 2006.
Di mana peserta didik dapat mengaktualisasi dirinya dalam pembelajaran dengan mengalami sendiri. Sejalan dengan hal ini Winataputra (1994 : 8) mendefinisikan belajar sebagai setiap perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman. Dalam pembelajaran IPS di kelas peserta didik juga diharapkan dapat mencapai indikator yang telah direncanakan sebelumnya. Hal ini sebagai tolak ukur perubahan tingkah laku yang dialami peserta didik. Sedangkan Nasution (dalam Sudaryo, 1990 : 3) menegaskan bahwa dalam pendidikan sekolah tradisional belajar diartikan sebagai upaya seseorang untuk menambah pengetahuan. Pendidikan modern lebih memperhatikan perkembangan seluruh pribadi anak. Secara tradisional belajar sering kali disamakan dengan menghafal, yang diutamakan adalah pengumpulan ilmu. Oleh karena itu maka pendidikan sekolah dicap sebagai pendidikan yang sifatnya intelektualistik.

Dalam pendidikan modern Pengetahuan tetap penting, akan tetapi pengetahuan harus berfungsi dalam kehidupan peserta didik, selain segi intelektual diperhatikan juga segi sosial, emosional, dan sebagainya. Pendidikan modern menganut pengertian belajar sebagai perubahan tingkah laku pada diri peserta didik berkat pengalaman dan latihan.

Hasil belajar yang bermacam-macam tersebut oleh Benyamin S Bloom
(Sudaryo, 1990 : 3-4) diklasifikasikan ke dalam tiga domain, yaitu ranah kognitif
yang mengarahkan siswa untuk mengembangkan kemampuan intelektual siswa
dan abilitas (fakta, konsep, keterampilan intelektual). Ranah afektif yang
mengarahkan siswa mengembangkan kepekaan emosi atau sikap (sikap, nilai,
kepercayaan). Ranah psiko motorik yang mengarahkan siswa mengembangkan
keterampilan fisik/ motorik seperti keterampilan menggunakan alat, sampai pada
keterampilan bermain bola, keterampilan memainkan alat musik.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar adalah perubahan, yang
mengandung makna terjadinya perubahan tingkah laku pada diri peserta didik
baik yang nampak maupun yang tidak nampak berkat pengalaman dan latihan.
Mengajar secara tradisional diartikan sebagai upaya penyampaian/ penanaman
pengetahuan pada peserta didik. Dalam pengertian ini peserta didik dipandang
sebagai objek yang sifatnya pasif. Pengajaran berpusat pada guru (Teacher centered = teacher oriented), jadi guru yang memegang peranan utama dalam
proses belajar mengajar.

Jadi, mengajar adalah proses pengaturan yang dilakukan oleh guru supaya
peserta didik dapat belajar. Pengertian mengajar modern inilah yang saat ini
diterapkan dalam kurikulum 2004 dan 2006, sehingga mengajar diartikan sebagai
penciptaan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses
belajar.

2. Komponen-komponen Pembelajaran

Penggunaan istilah sistem lingkungan belajar menunjuk pada pengajaran sebagai suatu sistem, yaitu sebagai suatu kesatuan yang terorganisasi. Pengajaran yang terdiri dari sejumlah komponen yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Komponen-komponen tersebut antara lain adalah tujuan pengajaran yang ingin dicapai, materi pengajaran, metode pengajaran, media pengajaran, evaluasi, guru, siswa, administrasi pengajaran, sarana dan prasarana pengajaran (Sudaryo, 1990 : 5).

a) Tujuan Pembelajaran

Tujuan merupakan salah satu komponen pembelajaran yang dapat
mempengaruhi komponen pembelajaran lainnya seperti materi, metode, media, evaluasi, peserta didik, administrasi pengajaran, sarana dan prasarana. Semua komponen itu harus sesuai dan digunakan untuk mencapai tujuan seefektif dan seefisien mungkin. Jika salah satu komponen tidak sesuai dengan tujuan, maka kegiatan belajar mengajar tidak akan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan yang diprogramkan tanpa tujuan, karena dengan tujuan menentukan ke arah mana kegiatan akan dibawa. Sebagai unsur penting untuk suatu kegiatan, maka dalam kegiatan apapun tujuan tidak bisa diabaikan.

Demikian juga dalam kegiatan belajar mengajar. Tujuan dalam
pendidikan dan pengajaran adalah suatu cita-cita yang bernilai normatif. Dalam tujuan terdapat sejumlah nilai yang harus ditanamkan kepada peserta didik. Nilai-nilai itu nantinya akan mewarnai cara peserta didik bersikap dan berbuat dalam lingkungan sosialnya baik di sekolah maupun di luar sekolah (Djamarah dan Zain, 2006 : 42).

b) Materi Pelajaran

Materi pelajaran merupakan komponen pembelajaran yang selama ini
dipahami oleh sebagian guru adalah buku paket mata pelajaran yang diwajibkan untuk dimiliki oleh peserta didik. Sumber belajar yang terbatas itu tentunya akan mempengaruhi pembelajaran tekstual terbatas pada buku paket yang dimiliki. Jika hal ini terjadi pada mata pelajaran IPS, maka peserta didik hanya memahami konsep-konsep IPS sebatas teoritis seperti yang ada dalam buku paket, yang berakibat peserta didik tidak dapat menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat dan juga tidak dapat mengkritisi masalah yang ada.

Materi pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar (Djamarah dan Zain, 2006: 43). Tanpa materi pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Guru yang akan mengajar pasti memiliki dan harus menguasai materi pelajaran yang akan disampaikan pada peserta didik. Biasanya aktivitas peserta didik akan berkurang bila bahan pelajaran yang diberikan guru kurang menarik perhatiannya. Materi pelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik karena akan memotivasi peserta didik untuk belajar.

Maslow (dalam Djamarah dan Zain, 2006 : 44) mengatakan bahwa minat seseorang akan muncul bila sesuatu itu terkait dengan
kebutuhannya. Sedangkan Rohani (2004 : 167) mengatakan bahwa materi pelajaran dapat diperoleh dari sumber belajar, dimana penggunaan sumber belajar yang bervariatif memiliki banyak kegunaan bagi peserta didik diantaranya: Memotivasi belajar siswa, Pencapaian tujuan pembelajaran, Mendukung Program pembelajaran (aktivitas belajar), Membantu memecahkan masalah, Mendukung pengajaran presentasi (pembelajaran yang
mengaktifkan siswa). Guru di lapangan sering kali hanya menggunakan sumber belajar konvensional, yaitu dari buku pelajaran IPS SD. Hal ini
menjadikan pembelajaran di kelas menjadi monoton dan kurang menarik
perhatian siswa. Dalam pembelajaran IPS guru harus mengarahkan peserta didik agar dapat memanfaatkan lingkungan di sekitarnya menjadi sumber belajar baginya. Disamping itu laboratorium IPS yang sesungguhnya adalah
dengan terjun ke masyarakat, karena kajian utama dalam IPS adalah ilmu
pengetahuan tentang kemasyarakatan.

c) Metode Pembelajaran

Metode memiliki peranan yang tidak kalah penting dengan komponen pembelajaran lainnya. Metode adalah suatu cara kerja yang sistematik dan umum, berfungsi sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan (Rohani, 2004 : 118). Dalam pengajaran konvensional ceramah merupakan metode andalan yang digunakan oleh guru, walaupun sampai saat ini masih ada sebagian guru yang masih sering menggunakannya.

Semakin baik suatu metode makin efektif pula dalam pencapaiannya.
Akan Tetapi tidak ada satupun metode yang paling baik bagi semua macam
pencapaian tujuan, karena dipengaruhi oleh berbagai faktor dan yang paling
menentukan adalah tujuan pembelajaran yang akan dicapai Dalam menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan guru harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Winarno (dalam Djamarah, 2000: 184-185) mengemukakan :

1) Tujuan dengan berbagai jenis dan fungsinya,

2) Anak didik dengan berbagai tingkat kematangannya,

3) Situasi dengan berbagai keadaannya,

4) Fasilitas dengan berbagai kualitas dan kuantitasnya,

5) Pribadi guru serta kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda.

Hanya sebagian guru yang mempertimbangkan kelima faktor tersebut dalam pemilihan metode pembelajaran. Biasanya guru hanya mempertimbangkan materi pelajaran dan peserta didiknya.

Adapun jenis metode-metode pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru adalah: Metode Ceramah, Metode Tanya jawab, Metode Demonstrasi, Metode Experiment, Metode Resitasi/ penugasan, Metode Drill/
latihan, Metode Problem solving, Metode Inquiry, Metode Teknik Klarifikasi
Nilai, Metode Role Playing, Metode Simulasi, Metode Karya wisata, Metode
Kerja Kelompok, Metode Diskusi, dan Metode Proyek. Macam-macam metode di atas dapat menjadi pilihan bagi guru, yang sebelumnya telah disesuaikan dengan tujuan, peserta didik, situasi, fasilitas, dan kemampuan guru sendiri. Sehingga kegiatan pembelajaran dapat optimal dan tujuan pendidikan dapat dicapai.

d) Media Pembelajaran

Pola pendidikan tradisional menganggap pemanfaatan media sebagai
penghambat atau tidak efisien, karena ketidaktahuan dengan pola baru, dan
menganggap yang menjadi pusat perhatian adalah medianya, bukan informasi
atau pengalaman yang disalurkan melalui media (Danim, 1994: 10). Tuntutan
masyarakat yang semakin besar terhadap pendidikan dan kemajuan IPTEK
menuntut pemanfaatan media yang harus dioptimalkan. Keterbatasan kemampuan guru dan minimnya media pembelajaran di sekolah menyebabkan pembelajaran IPS di kelas masih menggunakan media konvensional sampai sekarang.

Media pendidikan menurut Santoso S Hamidjojo dalam Rumamouk
(1988 : 6) adalah media yang penggunaannya diintegrasikan dengan tujuan dan isi pengajaran, dimaksudkan untuk mempertinggi mutu kegiatan belajar mengajar. Hal tersebut biasanya sudah dituangkan dalam garis-garis besar tujuan pembelajaran.

Danim (1994 : 12-13) mengemukakan penggunaan media oleh guru dapat diperoleh beberapa manfaat yaitu :

1) Meningkatkan mutu pendidikan, di mana dapat mempercepat dan membantu guru menggunakan waktu belajar dengan lebih baik,

2) Pendidikan yang individual, dengan mengurangi kontrol guru yang tradisional dan kaku, memberi kesempatan luas kepada anak untuk berkembang menurut kemampuannya dan belajar sesuai cara yang dikehendakinya;

3) Pengajaran lebih ilmiah, dengan merencanakan program pengajaran yang logis, dan sistematis, serta mengembangkan kegiatan pengajaran melalui penelitian,

4) Data lebih konkret;

5) Membawa dunia nyata ke dalam kelas;

6) Penyajian pendidikan lebih luas.

e) Evaluasi Pembelajaran

Dalam usaha mencapai tujuan pendidikan perlu diketahui apakah usaha yang dilakukan sudah sesuai atau searah dengan tujuan? Jika ya, sudah sejauh mana ditempuh. Adakah faktor-faktor yang menghambat usaha itu serta bagaimana mengatasinya? Upaya itu bermuara kepada evaluasi.
Evaluasi atau penilaian dalam pembelajaran mutlak harus dilakukan oleh
guru, seperti yang dikemukakan oleh Rohani (2004: 168) bahwa penilaian
merupakan bagian integral dari pembelajaran itu sendiri, yang tidak terpisahkan dalam penyusunan dan pelaksanaan pembelajaran. Penilaian bertujuan menilai efektivitas dan efisiensi kegiatan pembelajaran sebagai bahan untuk perbaikan dan penyempurnaan program serta pelaksanaannya.

Dalam penilaian pendidikan memiliki tujuan dan fungsi yang dikaitkan dengan perencanaan, pengelolaan, proses, dan tindak lanjut pembelajaran baik yang menyangkut siswa, guru, dan kelembagaan

2. Guru

Profesionalisme berkembang sesuai dengan kemajuan masyarakat
modern. Hal ini menuntut beraneka ragam spesialisasi yang sangat diperlukan
oleh masyarakat yang semakin kompleks, termasuk didalamnya masalah
kependidikan seperti profesi guru.

Menurut Soetjipto dan Kosasi (2004 : 37) guru merupakan jabatan profesional yang harus memenuhi kualifikasi tertentu meliputi: intelektual, menguasai suatu disiplin ilmu khusus, memerlukan persiapan yang cukup lama,
memerlukan latihan yang berkesinambungan, merupakan karier hidup dan
keanggotaan yang permanen, menentukan baku perilaku, mementingkan layanan,
mempunyai organisasi profesional dan mempunyai kode etik yang ditaati oleh
anggotanya.

Guru memiliki peranan penting dalam pendidikan. Bagaimanapun
hebatnya kemajuan teknologi, peran guru akan tetap diperlukan. Ilmu
pengetahuan dan teknologi yang memudahkan manusia, tidak mungkin dapat
menggantikan peran guru. Masalah guru senantiasa mendapat perhatian baik oleh
pemerintah maupun oleh masyarakat pada umumnya dan oleh para ahli
pendidikan pada khususnya.

Pemerintah memandang bahwa guru merupakan media yang sangat
penting artinya dalam kerangka pembinaan dan pengembangan bangsa. Guru
mengemban tugas-tugas sosio kultural yang berfungsi mempersiapkan generasi
muda, sesuai dengan cita-cita bangsa. Di Indonesia dapat dikatakan mendapat titik sentral dalam dunia pendidikan (Hamalik, 2004 : 19).

Dalam proses pembelajaran guru tidak hanya berperan sebagai teladan
bagi siswa tetapi juga sebagai pengelola pembelajaran. Efektifitas pembelajaran
ditentukan oleh kualitas kemampuan guru (Sanjaya, 2006 : 20). Kegagalan
guru dalam mengkonstruksi dan mengelola pembelajaran akan mengakibatkan
ketidakberhasilan bagi peserta didik. Selain peserta didik kehilangan minat dan
perhatian dalam pembelajaran itu, mereka juga kehilangan motivasi untuk
belajar.

Pemberdayaan komponen-komponen yang ada dalam pembelajaran
(bahan, media, metode, sarana prasarana, dan lain-lain) tidak akan berguna bagi
terjadinya perolehan pengalaman belajar maksimal bagi murid jika tidak
didukung oleh keberadaan guru yang professional, karena guru merupakan unsur
manusiawi yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan (Bafadal, 2003: 4).
Jadi, diantara keseluruhan komponen pada sstem pembelajaran guru adalah
komponen yang paling esensial dan menentukan kualitas pembelajaran.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (dalam Sukmadinata, 2005 :
192-193) telah merumuskan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki guru
dan mengelompokkannya ke dalam 4 (empat) dimensi umum kemampuan, yaitu:

1) Kemampuan Professional, yang mencakup: a) penguasaan materi pelajaran, mencakup bahan yang akan diajarkan dan dasar keilmuan dari bahan pelajaran tersebut; b) penguasaan landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan; c) penguasaan proses kependidikan, keguruan dan pembelajaran siswa, seperti kemampuan membuka pelajaran, kemampuan bertanya, kemampuan mengadakan variasi pembelajaran, kejelasan dalam penyajian materi, kemampuan mengelola kelas, kemampuan menutup pelajaran, dan ketepatan antara waktu dan materi pelajaran.

2) Kemampuan Sosial, yaitu kemampuan menyesuaikan diri dengan tuntutan kerja dan lingkungan sekitar seperti berkomunikasi dengan peserta didik, guru-guru, warga sekolah lainnya, serta masyarakat.

3) Kemampuan Personal yang mencakup: a) Penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan; b) Pemahaman, penghayatan, dan penampilan nilai-nilai yang seyogianya dimiliki guru; c) Penampilan upaya untuk menjadikan dirinya sebagai anutan dan teladan bagi para siswanya.

4) Kemampuan Pedagogik, yang mencakup: a) pemahaman terhadap peserta didik seperti membantu siswa menyadari kekuatan dan kelemahan diri, membantu siswa menumbuhkan kepercayaan diri, keterbukaan terhadap pendapat siswa, sikap sensitif terhadap kesukaran peserta didik; b) perancangan pembelajaran, seperti perumusan indikator, ketepatan materi, penggunaan media, mengorganisasikan urutan materi; c) ketepatan alat evaluasi; d) kemampuan mengembangkan potensi peserta didik.

Dalam prakteknya cenderung melaksanakan tugas yang berkaitan dengan keterampilan mengajar dan administrasinya. Guru professional selalu menampakkan diri dengan sejumlah ciri atau indikator. Indikator ini antara lain: (1) Memiliki komitmen pada siswa dan proses belajar mengajar, (2) Menguasai secara mendalam bahan ajar dan cara mengajarkannya, (3) Bertanggung jawab memantau kemajuan belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi, (4) Mampu berfikir sistematik dalam melakukan tugasnya, (5) Seyogyanya menjadi bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya, (6) Berupaya meningkatkan mutu professional, (7) Mencurahkan waktunya untuk kegiatan profesional, (8) Terdapat kesesuaian antara keahlian dan tugas pekerjaannya, (9) Penuh keteladanan baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Semakin banyak ciri yang dipraktekkan oleh guru semakin profesionallah guru itu (Soedharto, 1997 : 4).

Jika indikator professional adalah sejumlah kriteria norma, standar yang wajib dihayati dan diamalkan, maka derajat professional adalah tinggi rendahnya penghayatan dan pengalaman empiric guru terhadap sejumlah indikator tersebut. Tolak ukur derajat professional ini meliputi: (1) Apakah tingkat pengabdiannya memadai, (2) Apakah memanfaatkan temuan-temuan (termasuk pengamalan empiric dan hasil research) dan wawasan akademik, (3) Apakah ada usaha penyempurnaan prosedur dan teknik kerja, (4) Bagaimana etos kerja guru yang bersangkutan (menjaga mutu pekerjaan, menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaan, dan mengutamakan pemberian layanan) (Soedharto, 1997 : 5).

Guru harus menyadari dan meningkatkan kemampuannya dalam
mengelola pembelajaran dengan komponen-komponen yang ada di dalamnya
(perencanaan, sumber, metode, media, dan penilaian pembelajaran). Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif,
menyenangkan dan akan lebih mampu mengelola kelasnya, sehingga para siswa
dapat belajar pada tingkat optimal. Kompetensi guru di sini penting guna
mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

3. Peserta Didik

Peserta didik menurut Rohani (2004 : 1) mengandung sifat yang umum
yaitu bisa siswa/ mahasiswa, dan lebih bersifat aktif serta bersifat memanusiakan.
Dan peserta didik merupakan suatu komponen masukan dalam sistem pendidikan
yang selanjutnya diproses dalam proses pendidikan. Oleh karena itu kondisi dan
perkembangan peserta didik jangan sampai terlupakan oleh guru.

Dilihat dari pendekatan sosial peserta didik adalah anggota masyarakat
yang sedang disiapkan untuk menjadi anggota masyarakat yang lebih baik. Agar
pada waktunya nanti mampu melaksanakan peranannya dalam dunia kerja dan
dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat. Dalam situasi inilah nilai-nilai sosial
yang terbaik dapat ditanamkan (Hamalik, 2005 : 7). Hal itu dapat dicapai melalui
pembelajaran IPS.

Sedangkan pada pengajaran lama guru hanya mementingkan materi yang
harus ditransfer kepada peserta didik ditambah lagi dengan tuntutan pemenuhan
kurikulum yakni menghafal sejumlah subbab materi yang tersajikan dalam aneka
buku wajib mata pelajaran IPS.

Guru kerap kali melupakan peserta didik sebagai pihak yang secara
langsung mengalami dan mendapatkan kemanfaatan dari peristiwa belajar mengajar yang terjadi serta langsung menuju pada arah tujuan pendidikan melalui aktivitas dan berinteraksi langsung dengan lingkungan sebagai sumber belajar atas bimbingan guru (Rohani, 2004 : 114). Maka dalam pengajaran baru ini pembelajaran yang ditekankan tidak lagi guru sentris melainkan siswa sentris.
Dimana Peserta didik sebaiknya dididik sebagai suatu keseluruhan dan
menempatkan mereka sebagai unit organisme yang hidup sedang tumbuh dan
berkembang.

Peserta didik belajar dengan berbuat dan mengalami langsung yaitu
keterlibatan secara aktif dalam lingkungan belajar sehingga proses dan
keberhasilan belajar dipengaruhi pada kemampuan (abilitas) masing-masing
individu peserta didik (Hamalik, 2005: 10). Oleh karena itu guru harus
memperhatikan prinsip individualitas dalam proses pembelajaran karena tiap
peserta didik memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya,

4. Administrasi Pengajaran

Pengertian Administrasi adalah subsistem dari organisasi yang unsur-
unsurnya terdiri dari unsur organisasi yaitu tujuan, orang-orang, sumber, dan
waktu. Dalam konteks pendidikan administrasi pengajaran, meliputi: kegiatan
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan khususnya dalam
bidang pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah (Daryanto, 2005: 9).

Dalam menjalankan tugasnya guru melakukan kegiatan pengelolaan
akademik, dengan menyusun kalender akademik, program tahunan, program
semester, silabus, Rencana pembelajaran dan sebagainya yang harus diorganisasikan, sehingga dapat mencapai efektifitas dan efisiensi dalam
pembelajaran.

5. Sarana dan Prasarana

Secara otimologis (arti kata) prasarana berarti alat tidak langsung untuk
mencapai tujuan. Dalam pendidikan misalnya: lokasi/ tempat, bangunan sekolah, lapangan olahraga, dan sebagainya. Sarana merupakan alat langsung untuk
mencapai tujuan pendidikan, misalnya: ruang, buku, perpustakaan, laboratorium,
dan sebagainya. Ada juga perbedaan pandangan mengenai sarana yaitu keputusan
menteri P dan K No. 079/ 1975, sarana pendidikan terdiri dari 3 (tiga) kelompok
besar yaitu: (a) bangunan dan perabot sekolah, (b) alat pelajaran yang terdiri dari
pembukuan dan alat-alat peraga dan laboratorium, (c) media pendidikan
(Daryanto, 2005 : 51)

Sarana dan prasarana yang tersedia di sekolah akan mendukung proses
belajar mengajar. Demikian juga sebaliknya jika sarana dan prasarana tidak
memadai maka akan menghambat proses belajar mengajar. Bangunan-bangunan
sekolah yang rusak atau atap yang bocor misalnya, sudah tentu akan membuat
belajar mengajar menjadi tidak nyaman. Guru dan pihak sekolah harus tetap
memperhatikan komponen sarana dan prasarana untuk menunjang pembelajaran
yang efektif.

6. Mata Pelajaran IPS

Pendidikan IPS (Social Studies) menurut Mayhood dkk., (1991: 10), adalah “The Social Studies are comprised of those aspects of history, geography, and philosophy which in practice are selected for instructional purposes in schools and colleges” National Council for the Social Studies (NCCS) memberikan definisi yang lebih tegas, seperti yang dikutip Catur (2004), bahwa IPS sebagai “the study of political, economic, cultural, and environment aspects of societies in the past, present and future” Perkembangan Pendidikan IPS di AS sangat gencar pasca Perang Dunia I, ketika integrasi nasional diperlukan sebagai benteng melemahnya kebudayaan Anglo-Saxon sebagai identitas peradaban mereka. Sementara di Indonesia istilah IPS sendiri baru muncul sekitar tahun 1975-1976, pada saat penyusunan pendidikan PSP, label untuk mata pelajaran Sejarah, Ekonomi, geografi dan mata pelajaran lainnya pada tingkat dasar dan menengah (Noman, 2001 : 101).

Penjelasan IPS adalah suatu synthetic discipline yang berusaha untuk mengorganisasikan dan mengembangkan substansi ilmu-ilmu sosial secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan. Makna synthetic discipline, bahwa IPS bukan sekedar mensistesiskan konsep-konsep yang relevan antara ilmu-ilmu pendidikan dan ilmu-ilmu sosial, tetapi juga mengkorelasikan dengan masalah-masalah kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan. Secara lebih tegas, bahwa Pendidikan IPS memuat tiga sub tujuan, yaitu; Sebagai Pendidikan Kewarganegaraan; Sebagai ilmu yang konsep dan generalisasinya dalam disiplin ilmu-ilmu sosial; Sebagai ilmu yang menyerap bahan pendidikan dari kehidupan nyata dalam masyarakat kemudian dikaji secara reflektif.

Sebagai upaya untuk merealisasikan tujuan di atas, perlu dilakukan bangunan kurikulum yang kuat. Berbagai diskursus dan kebijakan pengembangan kurikulum IPS telah dilakukan pada setiap era. Upaya yang paling akhir adalah dengan pengembangan mata pelajaran IPS dalam kurikulum yang terintegrasi untuk pendidikan dasar dan menengah (SD dan SMP), dimana pada masa sebelumnya IPS hanya dikenal di pendidikan dasar. Makalah ini akan mengkaji bagaimana dinamika pengembangan kurikulum Pendidikan IPS pada pendidikan dasar dan menengah.

a) Pendidikan IPS pada Pendidikan Dasar

Istilah Pendidikan IPS telah lama kita kenal dalam mata pelajaran di pendidikan dasar (SD). Pendidikan IPS untuk pendidikan dasar dan menengah sumber bahannya adalah disiplin ilmu-ilmu sosial seperti yang disajikan pada tingkat universitas, hanya karena pertimbangan tingkat kecerdasan, kematangan jiwa peserta didik, maka bahan pendidikannya disederhanakan, diseleksi, diadaptasi dan dimodifikasi untuk tujuan institusional Dikdasmen (Saidihardjo, 1997). Pendidikan IPS di SD telah mengintegrasikan bahan pelajaran dalam satu bidang studi. Hingga sekarang, bahwa buku-buku IPS untuk SD telah memasukkan setidaknya lima sub bidang studi, yakni Sejarah, Geografi, Politik, Hukum, dan Ekonomi. Guru-guru mata pelajaran di SD-pun telah disiapkan secara khusus, seperti SPG, dan PGSD (untuk saat ini). Paradigma pengembangan guru SD memang untuk bisa mengajar seluruh bidang studi, kecuali Agama dan Penjaskes.

Menurut Noman (2001 : 102) bahwa tujuan Pendidikan IPS pada tingkat sekolah adalah :

1. Menekankan tumbuhnya nilai kewarganegaraan, moral, ideologi negara dan agama.

2. Menekankan pada isi dan metode berfikir ilmuwan

3. Menekankan reflective inquiry

IPS menurut NCCS mempunyai tujuan informasi dan pengetahuan (knowledge and information), nilai dan tingkah laku (attitude and values), dan tujuan ketrampilan (skill): sosial, bekerja dan belajar, kerja kelompok, dan ketrampilan intelektual. Berdasarkan pengertian dan tujuan pendidikan IPS tersebut, maka kurikulum Pendidikan IPS harus memuat bahan pelajaran yang sesuai dengan tujuan institusional dan tujuan pendidikan nasional. Di dalamnya hendaknya berisikan bahan yang memungkinkan siswa untuk berfikir kritis. Dengan demikian, bahwa kurikulum pendidikan IPS harus memperhatikan pengembangan akal siswa. Pendidikan IPS harus membuat struktur keilmuan yang kuat, menyesuaikan tingkat keberadaan siswa.

Walaupun demikian, kurikulum harus tetap terbuka untuk masuknya bahan kenyataan hidup seperti model perilaku manusia yang dialami lewat ; a) proses keyakinan agama, b) keyakinan pada dasar negara , c) proses pengaruh produksi estetika, d) proses pengalaman sejarah, e)proses pengalaman logika, f) proses pengalaman dari tantangan ekonomi, sains, dan teknologi.

Pasal 37 UU SISDIKNAS tahun 2003 mengamanatkan bahwa kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat pendidikan IPS yang merupakan ilmu bumi, sejarah, ekonomi, kesehatan dan sebagainya, yang dimaksud untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis peserta didik terhadap kondisi sosial masyarakat. Sebagai implikasi dari maksud dan tujuan IPS, maka kurikulum Pendidikan IPS hendaknya berisikan garis-garis besar struktur disiplin ilmu dan model perilaku manusia yang tumbuh dalam masyarakat.

Isi kurikulum menurut Noman (2001 : 45-46) akan terdiri atas :

1. Model inquiry, masing-masing disipliln ilmu yang terdiri atas pertanyaan-pertanyaan pokok dan metode research setiap disipliln ilmu-ilmu sosial, psikologi dan agama.

2. Batang tubuh pengetahuan (body of knowledge) yang terdiri atas beberapa konsep. Konsep-konsep psikologi, filsafat dan agama akan sangat berguna untuk menghidupkan dan memperkuat kurikulum IPS.

3. Generalisasi, dari konsep-konsep dalam butir 2 tersebut, hendaknya meningkat kesukarannya dalam bentuk generalisasi.

Pendidikan IPS dapat berorientasi pada pendekatan monodisipliner serta inter- dan trans-disipliner, Pendidikan Ekonomi, Geografi, dan Pendidikan Sejarah merupakan contoh pendekatan monodisipliner, sedangkan Pendidikan Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan sebagai contoh Pendekatan trans-disipliner. Kurikulum Pendidikan IPS pada pendidikan dasar jauh dari orientasi pendekatan mono-disipliner.

b) Beberapa Permasalahan Pendidikan IPS pada Pendidikan Dasar

Pengembangan kurikulum Pendidikan IPS untuk sekolah dasar telah cukup lama dikembangkan. Format sistemnya lebih matang dibandingkan kurikulum Pendidikan IPS untuk tingkat SMP. Hanya saja masih terdapat beberapa permasalahan kurikulum Pendidikan IPS di SD, diantaranya adalah; Pertama, bahwa pendekatan proses yang menjadi salah satu acuan kurikulum Pendidikan IPS di SD masih kering. Terutama untuk SD-SD yang sangat jauh komunikasinya dengan sekolah-sekolah lainnya, pelaksanaan kurikulum kadang stagnan (jalan di tempat). Hal ini mengingat besarnya jumlah SD yang jauh dari jangkauan komunikasi ideal.

Kedua, bahwa persepsi Pendidikan IPS sebagai pelajaran yang tidak terlalu penting, atau kadang disepelekan karena terlalu mudah, menggiring pembelajaran IPS hanya menekankan aspek kognitif. Aspek afektif dan psikomotorik jarang dibuat parameter secara lebih tegas. Ketiga, bahwa pembelajaran IPS pada tingkat SD belum begitu besar peranannya secara realita sebagai problem solving dalam kehidupan sehari-hari.

H. Metodologi Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan dan jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Masalah-masalah dalam pendidikan yang berkenaan dengan proses pendidikan dan hasil-hasil yang diperolehnya. Bagaimana proses itu terjadi dapat menjadi kajian utama penelitian kualitatif, karena Efisiensi, efektifitas, dan produktifitas proses pendidikan mempunyai sumbangan yang berarti terhadap kualitas pendidikan.

Proses dan hasil pendidikan tidak hanya diukur secara numerik/ angka
secara kuantitatif, bahkan lebih dari itu perlu pengkajian mendalam mengenai hal tersebut. Data kualitatif dalam pendidikan sangat bermanfaat untuk menemukan hakekat dan makna yang terkandung dalam proses pendidikan itu sendiri (Sudjana dan Ibrahim, 2004 : 208). Termasuk dalam penelitian ini yang akan menggali mengenai kendala-kendala dalam pembelajaran IPS.

2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di seluruh SD Negeri yang berada dalam wilayah kerja Kecamatan Baiturrahman Kota Banda Aceh, yang berjumlah 12 SD. Sedangkan waktu penelitian ini akan dilaksanakan pada tanggal 12 Juli 2010 sampai dengan 26 Juli 2010.

3. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Guru kelas IV SD Negeri kecamatan Baiturrahman dengan jumlah SD 12 buah, dan populasi berjumlah 120 orang. Sedangkan sampel yang menjadi bagian atau wakil dari populasi yang akan diteliti, diambil secara acak atau random sampling, sebanyak 25% yaitu 30 orang.

4. Teknik Pengumpulan Data

1) Sumber Data

a) Sumber Data Primer

Sumber data primer adalah sumber data yang diperoleh secara langsung melalui wawancara dengan subjek dan informan. Subjek dalam penelitian ini adalah guru-guru IPS di SD Negeri kecamatan Baiturrahman kota Banda Aceh. Sedangkan informan dalam penelitian ini adalah kepala sekolah di SD Negeri kecamatan Baiturrahman kota Banda Aceh. Dalam penelitian ini diperoleh sumber data primer melalui 30 guru sebagai subjek yang didapat dari 12 SD Negeri kecamatan Baiturrahman kota Banda Aceh. Baik dari hasil wawancara maupun ketika guru mengajar di kelas. Data primer lainnya diperoleh dari kepala sekolah selaku informan di 12 SD Negeri kecamatan Baiturrahman kota Banda Aceh. Hal tersebut dilakukan peneliti dengan mengacu kepada instrumen penelitian yang terdapat dalam lampiran.

b) Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder adalah sumber data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumbernya. Peneliti melihat buku-buku yang digunakan guru IPS sebagai sumber pembelajaran, serta bentuk penugasan dan penilaian yang dikerjakan oleh siswa. Arsip-arsip yang dimiliki guru seperti perangkat pembelajaran (Rencana Pembelajaran, Silabus, Program Tahunan, Program Semester, Kalender Akademik, dan Minggu Efektif), yang dapat memberikan keterangan mengenai kendala-kendala dalam pembelajaran IPS.

2) Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini akan digunakan beberapa teknik
diantaranya:

a) Wawancara

Wawancara dalam penelitian ini dilakukan kepada 30 guru-guru
IPS, dan kepala sekolah di SD Negeri kecamatan Baiturrahman kota Banda Aceh. Wawancara yang dilakukan kepada guru IPS untuk mencari tahu mengenai latar belakang pendidikan guru IPS, kemampuan dan kendala yang dihadapi dalam kegiatan pembelajaran IPS meliputi perencanaan dan pelaksanaan yaitu: perumusan indikator keberhasilan belajar, pemilihan materi pembelajaran, pengorganisasian materi pembelajaran, pemilihan sumber pembelajaran, skenario pembelajaran, penilaian, pra pembelajaran, membuka pembelajaran, kegiatan inti pembelajaran, dan penutup. Data mengenai pembelajaran IPS di sekolah baik teknis maupun non teknis serta gambaran umum mengenai sekolah akan ditanyakan kepada kepala sekolah.

b) Observasi

Peneliti mengobservasi guru dalam kegiatan pembelajaran IPS,
sehingga dapat dilihat kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Di samping itu peneliti juga memperoleh data tentang keaktifan peserta didik, serta mengamati lingkungan di sekolah yang kondusif atau dapat mendukung pembelajaran IPS baik dari situasi dan kondisi hingga sarana dan prasarana yang tersedia.

c) Dokumentasi
Peneliti mengambil foto aktifitas pembelajaran IPS di kelas, ketersediaan buku-buku di perpustakaan, media yang digunakan guru, dan sarana prasarana yang digunakan. Hal tersebut berkaitan dengan kendala dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran IPS yang dapat dilihat di dalam pembahasan.

5) Analisis Data

Data yang telah didapatkan kemudian dianalisis dengan menggunakan rumus statistik deskriptif persentase, yaitu :

P = x 100 %

Keterangan :

P = angka persentase

f = frekuensi jawaban aktivitas guru

N = jumlah aktivitas guru

(Anas Sudijono, 2001 : 40)

Untuk mengetahui kendala-kendal yang dialami guru dalam proses pembelajaran khususnya pembelajaran IPS, maka peneliti menggunakan tabel persentase nilai aktivitas sebagai berikut :

No

Persentase

Kategori aktifitas

1

81 – 100

Baik sekali

2

61 – 80

Baik

3

41 – 60

Cukup

4

21 – 40

Kurang

5

0 – 20

Kurang sekali

I. Jadwal Kegiatan

No

Rencana Kegiatan

2010

Juni

Juli

Juni

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

Persiapan

Menyusun konsep pelaksanaan

Menyepakati jadwal tugas

Menyusun instrumen

Seminar Konsep Pelaksanaan

2

Pelaksanaan

Menyiapkan kelas

Menyebarkan Angket

Melakukan Wawancara

Olah data

3

Penyusunan Laporan

Menyusun konsep laporan

Seminar hasil penelitian

Perbaikan hasil laporan

Penggandaan / pengiriman hasil

Catatan : Jadwal ini bisa saja berubah dari yang direncanakan, sesuai dengan situasi dan kondisi di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA

Bafadal, I., 2003. Peningkatan Profesionalisme Guru: Dalam Kerangka Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.

Danim, S., 1994. Media Komunikasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Daryanto, HM. 2005. Administrasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Djamarah, S.B., 2000. Guru dan Anak Didik: Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta : Rineka Cipta.

Djamarah, S.B., dan Zain, A., 2006. Strategi Belajar Mengajar (Edis Revisi). Jakarta : Rineka Cipta.

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. 2007. Pedoman Penulisan Skripsi, Banda Aceh : FKIP Universitas Syiah Kuala.

Hamalik, O., 2004. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. Jakarta: Bumi Aksara.

……… 2005. Kurikulum Dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.

Nasution, S., 2004. Didaktik Asas-asas Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Rohani, A., 2004. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Rumamouk, D.B., 1988. Media Instruksional IPS. Jakarta : Depdikbud.

Sanjaya, W., 2006. Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media.

Soedharto. 1997. Bahan Arahan. Semarang : Depdikbud Propinsi Jawa Tengah.

Soekamto, dkk., 1994. Teori Belajar dan Model-model Pembelajaran. Jakarta: PAU-Dirjen-Dikti-Depdiknas.

Sudaryo, dkk. 1990. Strategi Belajar Mengajar I. Wonosobo: Unnes Press.

Sudjana, N., dan Ibrahim. 2004. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Sudijono, A., 2008. Pengantar Statistika Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Sukmadinata, N., S., 2005. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia: Edisi
Ketiga.
Jakarta: Balai Pustaka.

Yamin, M., 2005. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta : Gaung Persada.

2 komentar:

  1. ngasal aja proposal nya ni, bego' yg buat, untuk mengetahui kendala2 yg dialami guru diukur dengan skala baik sekali, baik, cukup, kurang, sangat kurang, hahahaha kendala (kesulitan, hambatan) di ukur dengan baik, baik sekali, cukup, hahaha ngelawak aja lo tong

    BalasHapus
  2. PARAGRAF KE-2
    Pengajaran memang bukan konsep atau praktek yang sederhana ia bersifat kompleks, menjadi tugas dan tanggung jawab guru yang seharusnya. Pengajaran itu berkaitan erat dengan pengembangan potensi manusia (peserta didik), perubahan dan pembinaan dimensi-dimensi kepribadian peserta menyikapi makanan pada sang bayi. Dengan kata lain, tugas pengajaran (mengajar) adalah berat, kompleks, perlu keseriusan, tidak asal jadi atau coba-coba.
    NGAWUR, NGELANTRU, NGIGO SIANG BOLONG, BEGO' BENER NI YG BUAT

    BalasHapus